menu expand_more
search
close

Hotline
Bebas Pulsa

Whatsapp
081119027888

Kantor Pusat
Jl. Raya Daan Mogo..

Beranda » Layanan Rental » Perjalanan Jarak Pendek Terasa Lama Saat Puasa, Mitos atau Fakta?

Perjalanan Jarak Pendek Terasa Lama Saat Puasa, Mitos atau Fakta?

  • account_circle
  • calendar_month 25 Februari 2026
  • visibility 9
  • comment 0 komentar

Perjalanan jarak pendek saat puasa memang sering terasa lebih lama dari biasanya. Banyak orang merasakan fenomena ini, terutama saat berkendara menuju kantor atau pulang ke rumah di bulan Ramadan. Pertanyaannya, apakah ini hanya perasaan subjektif atau ada penjelasan ilmiah di baliknya?

Mengapa Waktu Terasa Berbeda Saat Berpuasa?

Persepsi waktu manusia ternyata sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik dan mental. Ketika tubuh berpuasa, beberapa perubahan fisiologis terjadi yang berdampak pada cara otak memproses waktu. Penelitian menunjukkan bahwa kadar gula darah yang menurun dapat memengaruhi fungsi kognitif, termasuk bagaimana kita merasakan durasi waktu.

Dr. Sarah Mitchell dari University of Cambridge pernah menjelaskan bahwa hipotalamus, bagian otak yang mengatur rasa lapar dan haus, juga berperan dalam persepsi waktu. Saat tubuh mengalami dehidrasi ringan dan penurunan energi, sinyal dari hipotalamus menjadi lebih dominan, membuat kita lebih fokus pada ketidaknyamanan fisik daripada aktivitas yang sedang dilakukan.

Dalam konteks perjalanan jarak pendek, fokus yang bergeser ini membuat setiap menit terasa lebih panjang. Anda mungkin lebih sering melihat jam, memperhatikan kemacetan, atau merasa tidak sabar sampai di tujuan. Semua ini menciptakan ilusi bahwa waktu berjalan lebih lambat.

Faktor Psikologis yang Berperan

Selain aspek fisiologis, ada dimensi psikologis yang tidak kalah penting. Teori “watched pot never boils” menjelaskan bahwa ketika kita terlalu fokus menunggu sesuatu, waktu terasa berjalan lebih lambat. Saat puasa, tubuh kita secara alami lebih menantikan waktu berbuka, sehingga setiap aktivitas menjelang waktu tersebut terasa lebih lama.

Marc Wittmann

Studi dari Marc Wittmann, peneliti dari Institute for Frontier Areas of Psychology and Mental Health di Jerman, menemukan bahwa emosi dan kondisi mental sangat memengaruhi persepsi durasi. Perasaan tidak nyaman, lelah, atau mengantuk yang sering dialami saat puasa membuat otak kita memproses waktu secara berbeda.

Ketika Anda melakukan perjalanan pendek dalam kondisi kenyang dan segar, otak memproses informasi dengan lebih efisien. Namun saat berpuasa, terutama menjelang waktu berbuka, tingkat energi menurun dan konsentrasi berkurang. Perjalanan yang biasanya terasa cepat tiba-tiba terasa melelahkan dan panjang.

Peran Lingkungan dan Rutinitas

Faktor eksternal juga turut berkontribusi. Di bulan Ramadan, jalanan cenderung lebih ramai menjelang waktu berbuka. Kemacetan yang meningkat secara objektif membuat perjalanan memang lebih lama. Kombinasi antara kondisi lalu lintas yang padat dan kondisi tubuh yang tidak prima menciptakan pengalaman perjalanan yang terasa berlipat ganda lebih lama.

Penelitian tentang traffic psychology menunjukkan bahwa persepsi waktu dalam kemacetan sangat dipengaruhi oleh mood dan kondisi fisik pengemudi. Saat Anda lapar, haus, dan lelah, toleransi terhadap kemacetan menurun drastis. Lima menit terjebak macet bisa terasa seperti lima belas menit.

Strategi Mengatasi Persepsi Waktu yang Melambat

Meskipun fenomena ini nyata, ada beberapa cara untuk mengelolanya. Pertama, atur waktu keberangkatan lebih awal untuk menghindari jam sibuk. Kedua, buat perjalanan lebih menyenangkan dengan mendengarkan podcast, musik favorit, atau murotal yang menenangkan.

Ketiga, jaga hidrasi optimal saat sahur. Dehidrasi adalah salah satu faktor utama yang membuat tubuh tidak nyaman dan memperlambat persepsi waktu. Keempat, pastikan istirahat cukup di malam hari agar tidak mengantuk saat berkendara.

Untuk perjalanan jarak pendek saat puasa, pertimbangkan juga untuk menggunakan transportasi yang lebih nyaman. Duduk dengan posisi yang rileks dan tidak perlu fokus menyetir bisa membuat perjalanan terasa lebih cepat dan tidak melelahkan.

#satisfactionineveryride

Kesimpulan: Fakta yang Dapat Dijelaskan Secara Ilmiah

Jadi, apakah perjalanan pendek terasa lebih lama saat puasa adalah mitos atau fakta? Jawabannya adalah fakta yang dapat dijelaskan secara ilmiah. Kombinasi antara perubahan fisiologis dalam tubuh, faktor psikologis, dan kondisi lingkungan memang membuat persepsi waktu berubah saat berpuasa.

Namun bukan berarti Anda harus menerima ketidaknyamanan ini begitu saja. Dengan perencanaan yang baik dan strategi yang tepat, perjalanan saat puasa bisa tetap nyaman dan efisien.

Untuk memaksimalkan kenyamanan perjalanan Anda selama bulan Ramadan, pertimbangkan untuk menggunakan layanan sewa mobil dari Harent. Dengan armada kendaraan yang terawat dan nyaman, perjalanan jarak pendek maupun jauh Anda akan terasa lebih menyenangkan. Harent menyediakan berbagai pilihan kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan Anda, lengkap dengan layanan profesional yang siap membuat setiap perjalanan lebih berkesan. Hubungi Harent sekarang dan nikmati pengalaman berkendara yang lebih nyaman di bulan penuh berkah ini.

Bagikan

commentKomentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Terbaik untuk Anda

voxy

Voxy

  • auto_transmission CVT
  • local_gas_station Bensin
  • airline_seat_recline_extra 7 Kursi
Rp 1,8jtRp 1,6jt/12 jam
honda crv

Honda CRV

  • auto_transmission Automatic
  • calendar_month 2022
  • local_gas_station Bensin
  • airline_seat_recline_extra 4 Kursi
Rp 1,6jtRp 1,4jt/12 jam
rental-mobil-pajero

Pajero Sport

  • auto_transmission Manual
  • calendar_month 2021
  • local_gas_station Solar
  • airline_seat_recline_extra 7 Kursi
Rp 1,8jtRp 1,6jt/12 jam
sewa-mobil-innova-hartono-rent-car

Innova Reborn

  • auto_transmission CVT
  • calendar_month 2022
  • local_gas_station Bensin
  • airline_seat_recline_extra 7 Kursi
Rp 1,3jtRp 1,1jt/12 jam