
Perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam Kisah Isra Mikraj menjadi salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah Islam yang hingga kini terus menginspirasi jutaan umat muslim di seluruh dunia. Peristiwa yang terjadi pada malam ke-27 bulan Rajab ini bukan sekadar perjalanan fisik biasa, melainkan sebuah mukjizat yang memperlihatkan kebesaran Allah SWT dan kedudukan istimewa Rasulullah sebagai utusan-Nya.
Isra Mi’raj adalah dua fase perjalanan spiritual yang dialami Nabi Muhammad SAW dalam satu malam. Isra merujuk pada perjalanan malam dari Masjidil Haram di Mekah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem, sementara Mi’raj adalah perjalanan vertikal dari Masjidil Aqsa menuju Sidratul Muntaha, melewati tujuh lapis langit hingga mencapai tingkatan tertinggi yang tidak pernah dijangkau makhluk lain.
Perjalanan Nabi Muhammad SAW Isra Mi’raj ini tercatat dalam Al-Quran, khususnya dalam Surah Al-Isra ayat 1 dan dijelaskan lebih detail dalam berbagai hadis shahih. Peristiwa ini terjadi sekitar satu tahun sebelum hijrah ke Madinah, tepatnya di masa-masa sulit ketika Rasulullah baru saja kehilangan pamannya Abu Thalib dan istrinya Khadijah.

Malam itu, Nabi Muhammad SAW sedang beristirahat di rumah Ummu Hani, saudara sepupu beliau. Tiba-tiba datang Malaikat Jibril membawa Buraq, seekor kendaraan istimewa yang berwarna putih, berukuran lebih besar dari keledai namun lebih kecil dari kuda, dengan kemampuan melangkah sejauh mata memandang.
Dalam sekejap, Rasulullah dibawa melintasi gurun pasir Arabia menuju Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa) di Yerusalem. Perjalanan yang normalnya membutuhkan waktu berbulan-bulan dengan unta, diselesaikan hanya dalam beberapa saat. Di Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad SAW memimpin salat berjamaah bersama para nabi dan rasul terdahulu, seperti Nabi Ibrahim, Musa, Isa, dan lainnya. Ini menandakan kesinambungan risalah dan kedudukan beliau sebagai penutup para nabi.

Setelah peristiwa Isra, dimulailah fase Mi’raj. Dari Masjidil Aqsa, Rasulullah naik ke langit pertama dan bertemu dengan Nabi Adam AS. Kemudian melanjutkan perjalanan ke langit kedua bertemu Nabi Yahya dan Isa, langit ketiga bertemu Nabi Yusuf, langit keempat bertemu Nabi Idris, langit kelima bertemu Nabi Harun, langit keenam bertemu Nabi Musa, dan di langit ketujuh bertemu Nabi Ibrahim AS.
Di setiap langit, para nabi menyambut kedatangan Rasulullah dengan penuh kehormatan. Perjalanan Nabi Muhammad SAW Isra Mi’raj terus berlanjut hingga melampaui Sidratul Muntaha, batas akhir yang dapat dijangkau oleh makhluk, termasuk Malaikat Jibril sekalipun. Di sinilah Rasulullah mendapat perintah langsung dari Allah SWT mengenai kewajiban salat lima waktu bagi umat Islam.
Kisah perjalanan luar biasa ini mengandung banyak pelajaran mendalam.
Ketika pagi harinya Rasulullah menceritakan pengalamannya, banyak orang Quraisy yang mengejek dan menganggapnya mustahil. Bahkan beberapa muslim yang imannya lemah menjadi murtad karena menganggap cerita ini tidak masuk akal. Namun Abu Bakar ash-Shiddiq dengan tegas menyatakan keyakinannya, hingga mendapat gelar “Ash-Shiddiq” (yang membenarkan).
Untuk membuktikan kebenarannya, Rasulullah mendeskripsikan secara detail kondisi Masjidil Aqsa dan kafilah-kafilah yang akan tiba di Mekah, termasuk waktu kedatangan dan ciri-ciri unta yang ditunggangi. Semua yang beliau sampaikan terbukti benar, membuat banyak yang tercengang.

Kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW Isra Mi’raj tetap relevan hingga hari ini. Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa dimensi spiritual sama pentingnya dengan kehidupan material. Di tengah kesibukan modern yang serba cepat, kita perlu menjaga hubungan vertikal dengan Allah melalui salat dan ibadah lainnya.
Perjalanan ini juga mengajarkan bahwa setiap kesulitan pasti ada jalan keluar. Seperti Rasulullah yang mendapat penghiburan tertinggi di masa sulit, kita pun harus yakin bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya yang sabar.
Kisah Isra Mikraj bukan sekadar cerita historis, tetapi panduan hidup yang penuh makna. Dari peristiwa luar biasa ini, kita belajar tentang keimanan, kesabaran, pentingnya salat, dan keyakinan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Setelah memahami perjalanan spiritual yang agung ini, tentunya kita juga perlu menjaga kesehatan fisik untuk beribadah dengan optimal. Sama seperti Nabi Muhammad SAW yang melakukan perjalanan bermakna, Anda juga bisa merencanakan perjalanan ibadah atau wisata religi bersama keluarga dengan nyaman.
Untuk kenyamanan perjalanan Anda, percayakan kebutuhan transportasi pada Harent. Dengan armada yang terawat dan layanan profesional, perjalanan ibadah atau aktivitas Anda akan lebih bermakna dan menyenangkan. Hubungi Harent sekarang dan wujudkan perjalanan terbaik Anda!
Saat ini belum ada komentar