
Banyak asumsi disekitar kita mobil jarang dipakai cepat rusak. Pernyataan ini mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang. Bagaimana mungkin kendaraan yang jarang digunakan malah mengalami kerusakan lebih cepat dibanding yang rutin dipakai? Faktanya, anggapan ini bukan sekadar mitos belaka. Ada penjelasan teknis dan ilmiah yang mendukung fenomena ini.
Sebagai seseorang yang pernah mengalami langsung kejadian ini dengan mobil pribadi yang hanya dipakai saat weekend, saya bisa membuktikan bahwa mesin yang terlalu lama menganggur memang menimbulkan berbagai masalah. Dari aki yang soak, ban kempes, hingga mesin yang susah dihidupkan. Pengalaman ini membuat kami memahami pentingnya perawatan berkala meskipun kendaraan tidak sering digunakan.
Ada beberapa alasan teknis mengapa mobil yang jarang dipakai justru lebih cepat mengalami kerusakan dibanding yang rutin digunakan. Mari kita bahas satu per satu.
Komponen pertama yang paling rentan adalah aki. Ketika mobil tidak dinyalakan dalam waktu lama, aki akan mengalami self-discharge atau pengosongan secara alami. Meskipun kendaraan tidak digunakan, sistem kelistrikan seperti alarm, jam, dan ECU tetap mengonsumsi daya listrik. Dalam waktu 2-3 minggu tanpa dinyalakan, aki bisa benar-benar habis dan mengalami sulfasi yang merusak sel-sel di dalamnya.
Aki yang tekor tidak hanya membuat mobil sulit distarter, tapi juga memperpendek umur battery itu sendiri. Proses charging dan discharging yang tidak teratur akan merusak kemampuan aki untuk menyimpan listrik secara optimal.
Oli mesin berfungsi melumasi komponen-komponen mesin agar tidak terjadi gesekan berlebihan. Ketika mobil jarang dipakai, oli akan mengendap di bagian bawah mesin dan meninggalkan bagian atas tanpa pelumasan. Saat mesin dihidupkan setelah lama tidak digunakan, komponen bagian atas akan mengalami gesekan metal to metal yang dapat menyebabkan keausan.
Selain itu, oli yang terlalu lama didiamkan akan mengalami oksidasi dan kehilangan sifat pelumas optimalnya. Kontaminan seperti uap air juga bisa masuk dan mencemari oli, yang pada akhirnya merusak mesin dari dalam.
Berbagai komponen karet seperti seal, selang, dan gasket memerlukan pelumasan alami dari cairan yang mengalir. Ketika mobil jarang dipakai, cairan-cairan seperti oli, minyak rem, dan coolant tidak bersirkulasi dengan baik. Akibatnya, komponen karet akan mengering, mengeras, dan retak.
Ban mobil juga mengalami hal serupa. Ban yang jarang bergerak akan mengalami flat spot atau bagian yang datar karena terus menerus menahan beban kendaraan di titik yang sama. Kondisi ini membuat ban tidak bulat sempurna dan menyebabkan getaran saat dikendarai.
Kelembaban udara menjadi musuh utama mobil yang jarang digunakan. Tanpa sirkulasi udara yang baik dari mesin yang menyala, kelembaban akan menumpuk di berbagai bagian mobil. Ini menyebabkan korosi pada komponen logam seperti rem, knalpot, dan rangka.
Sistem rem sangat rentan terhadap karat. Cakram rem dan kampas rem yang lama tidak bergesekan akan mengalami penumpukan karat yang mengurangi efektivitas pengereman. Dalam kasus parah, rem bisa macet dan tidak berfungsi dengan baik.
Bensin atau solar yang terlalu lama tersimpan di tangki akan mengalami degradasi. Bensin bisa menguap dan meninggalkan endapan yang menyumbat filter dan injektor. Solar bisa ditumbuhi bakteri yang menghasilkan lumpur dan merusak sistem bahan bakar.
Sistem bahan bakar yang terkontaminasi akan membuat mesin susah hidup, tarikan tidak optimal, bahkan bisa merusak pompa bensin dan injektor yang harganya cukup mahal.

Idealnya, mobil harus dinyalakan dan dikendarai minimal seminggu sekali. Durasi pemakaian minimal 15-20 menit dengan kecepatan yang bervariasi, bukan hanya dipanaskan di tempat. Hal ini penting agar semua sistem bekerja optimal, oli bersirkulasi, aki terisi penuh, dan komponen-komponen bergerak mendapat pelumasan.
Jika mobil harus ditinggal lebih dari sebulan, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan. Isi bahan bakar sampai penuh untuk menghindari pengembunan, lepas terminal aki untuk mencegah pengosongan, pastikan ban memiliki tekanan yang cukup, dan parkir di tempat yang kering serta teduh.
Untuk menjaga kondisi mobil yang jarang dipakai, lakukan beberapa hal berikut. Panaskan mesin secara rutin minimal seminggu sekali selama 15-20 menit. Kendarai mobil jarak pendek untuk memastikan semua komponen bergerak. Cek tekanan ban secara berkala karena ban yang kurang angin akan cepat rusak. Gunakan battery charger atau maintainer untuk menjaga aki tetap terisi. Ganti oli sesuai waktu, bukan hanya berdasarkan jarak tempuh.
Perhatikan juga cairan-cairan lain seperti minyak rem, coolant, dan air wiper. Pastikan semua cairan dalam kondisi baik dan tidak berkurang drastis. Simpan mobil di tempat yang kering dan gunakan cover untuk melindungi cat dari debu dan sinar UV.
Jadi, benarkah mobil jarang dipakai cepat rusak? Jawabannya adalah benar. Mobil dirancang untuk digunakan secara regular, bukan untuk didiamkan. Berbagai komponen mekanis dan elektrikal memerlukan aktivitas rutin agar tetap dalam kondisi optimal.
Namun, bukan berarti Anda harus memaksakan diri memiliki mobil pribadi jika memang jarang menggunakannya. Solusi praktisnya adalah dengan menyewa mobil saat dibutuhkan. Harent menyediakan layanan sewa mobil dengan armada yang terawat dan siap pakai kapan saja. Anda tidak perlu pusing dengan perawatan, pajak, atau risiko kerusakan karena kendaraan jarang digunakan.
Dengan menyewa mobil di Harent, Anda bisa mendapatkan kendaraan dalam kondisi prima tanpa harus repot melakukan maintenance rutin. Lebih hemat, praktis, dan tentunya bebas khawatir akan masalah mobil yang jarang dipakai. Kunjungi Harent sekarang dan nikmati kemudahan mobilitas tanpa beban kepemilikan kendaraan.
Saat ini belum ada komentar