
Pertanyaan tentang ada apa saja di Keraton Yogyakarta kerap muncul dari wisatawan yang ingin mengunjungi destinasi ikonik ini. Sebagai pusat kebudayaan Jawa sekaligus kediaman resmi Sultan Hamengkubuwono, Keraton Yogyakarta menyimpan kekayaan sejarah, arsitektur, dan tradisi yang masih hidup hingga kini. Berdiri sejak 1755 pasca Perjanjian Giyanti, kompleks istana seluas 14.000 meter persegi ini bukan hanya sekadar bangunan bersejarah, melainkan living monument yang terus menjalankan tradisi kesultanan.
Bagi kamu yang berencana liburan ke Jogja, memahami apa saja yang ada di Keraton Yogyakarta akan membantu memaksimalkan pengalaman wisata budayamu. Artikel ini akan mengupas lengkap tentang bangunan, koleksi, aktivitas, hingga informasi praktis yang kamu perlukan.
Keraton Yogyakarta didirikan oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I setelah Kerajaan Mataram terpecah menjadi dua kekuasaan. Lokasi keraton dipilih di bekas Pesanggrahan Garjitawati yang dahulu menjadi tempat peristirahatan iring-iringan jenazah raja Mataram sebelum dimakamkan di Imogiri.
Yang menarik, tata letak keraton dirancang dengan filosofi mendalam, mengikuti sumbu imajiner dari Gunung Merapi di utara hingga Pantai Parangtritis di selatan. Konsep ini mencerminkan keselarasan antara manusia, Tuhan, dan alam dalam tradisi Jawa.

Ketika membahas ada apa saja di Keraton Yogyakarta, kita perlu mengenal tujuh kompleks plataran utama yang menjadi inti kawasan ini. Setiap plataran memiliki fungsi dan makna filosofis tersendiri.
Pagelaran merupakan area paling depan di mana pada masa lampau berfungsi sebagai tempat para Abdi Dalem menghadap Sultan ketika upacara-upacara kerajaan. Di sini terdapat singgasana Sultan yang menghadap lurus ke arah Tugu Jogja, melambangkan perhatian Sultan terhadap kehidupan rakyatnya.
Bangsal Srimanganti menjadi bangunan utama di area ini. Saat ini berfungsi untuk mementaskan kesenian budaya Keraton Yogyakarta dan digunakan sebagai tempat Sultan menjamu tamu. Di sisi timur terdapat Bangsal Trajumas yang menyimpan beberapa benda pusaka milik keraton.
Kedhaton merupakan plataran utama yang memiliki tataran hirarki tertinggi dan merupakan pusat dari kawasan Keraton Yogyakarta. Area ini menjadi lokasi dua bangunan paling sakral yaitu Bangsal Kencana untuk upacara penting dan Gedhong Prabayeksa untuk menyimpan pusaka utama kesultanan.
Bangsal Kemagangan dahulu digunakan sebagai tempat berlatih para Abdi Dalem. Kini bangunan ini digunakan untuk pementasan wayang kulit dan berbagai kegiatan budaya lainnya.
Kawasan keraton juga mencakup Kamandhungan Lor dan Kidul, serta Sitihinggil Kidul yang kini menjadi Sasana Hinggil Dwi Abad. Setiap kompleks memiliki regol atau gerbang sebagai pembatas yang menciptakan hierarki ruang yang jelas.

Saat mengunjungi Keraton Yogyakarta, kamu akan dimanjakan dengan berbagai koleksi bersejarah. Terdapat koleksi barang antik seperti peralatan rumah tangga, keris, tombak, wayang, gamelan, naskah kuno, foto dan lukisan yang diperkirakan sudah berusia 200 tahun.
Museum Keraton menyimpan kereta kencana pusaka yang pernah digunakan Sultan dan keluarga kerajaan. Kamu juga bisa melihat perlengkapan jumenengan atau penobatan raja yang terdiri dari berbagai benda sakral seperti dalang, sawung, galing, dan cepuri.
Koleksi gamelan kuno dan senjata pusaka yang tersimpan rapi di Bangsal Trajumas memberikan gambaran tentang kekayaan budaya kesultanan. Setiap benda memiliki cerita dan makna filosofis yang mendalam.

Salah satu daya tarik utama ketika membahas ada apa saja di Keraton Yogyakarta adalah pertunjukan seni tradisional yang rutin digelar. Setiap hari terdapat jadwal pertunjukan yang berbeda, mulai dari tari klasik, wayang kulit, wayang golek, hingga macapat.
Pertunjukan ini berlangsung di Bangsal Srimanganti dan bisa kamu saksikan secara gratis setelah membeli tiket masuk keraton. Bahkan jenis tarian dan tembang yang dipentaskan berbeda setiap harinya, sehingga memberikan pengalaman baru meskipun kamu berkunjung berkali-kali.
Kamu juga bisa mengikuti Turangga Tour setiap Sabtu pukul 10.00 di Museum Wahanarata untuk mempelajari cara perawatan kuda kerajaan yang masih dilakukan hingga kini.

Bentuk bangunan terpengaruh model dari Eropa seperti Portugis dan Belanda serta China. Perpaduan ini menciptakan arsitektur unik yang membedakan Keraton Yogyakarta dengan istana lainnya.
Bangunan di keraton dibedakan menjadi dua tipologi. Bangsal adalah bangunan dengan deretan tiang tanpa dinding sebagai penyangga atap, sedangkan Gedhong memiliki struktur dinding dari kayu atau batu bata. Ada pula Tratag yang merupakan kanopi beratap dengan tiang bambu atau besi.
Ornamen keemasan pada pilar-pilar tinggi di Bangsal Kencana mencerminkan kemegahan kerajaan Jawa. Setiap detail arsitektur dirancang dengan penuh makna filosofis yang mencerminkan nilai-nilai kehidupan masyarakat Jawa.
Museum Wahanarata menjadi destinasi yang tak boleh dilewatkan. Di sini tersimpan berbagai koleksi kereta kuda pusaka dan alat transportasi bersejarah yang pernah digunakan Sultan dan keluarga kerajaan. Setiap kereta memiliki cerita dan fungsi spesifik dalam berbagai upacara adat.
Tamansari merupakan kompleks kolam pemandian, taman, dan lorong bawah tanah milik Keraton Yogyakarta yang menyimpan berbagai kemegahan sejarah. Dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I, kompleks ini dulunya menjadi tempat rekreasi dan meditasi keluarga kerajaan.

Berdasarkan informasi terbaru, harga tiket masuk Kedhaton untuk domestik dewasa adalah Rp15.000 dan anak-anak Rp10.000, sedangkan wisatawan mancanegara dewasa Rp25.000 dan anak-anak Rp20.000. Untuk Museum Wahanarata dan Tamansari, harga tiketnya berbeda dengan sistem terpisah.
Keraton Yogyakarta buka untuk kunjungan umum setiap hari Selasa hingga Minggu pukul 08.00 sampai 14.00 WIB. Pada hari Senin dan tanggal 17 Agustus, keraton ditutup untuk umum. Pastikan kamu datang lebih pagi agar punya waktu cukup untuk menjelajahi seluruh kompleks.
Keraton terletak di Jl. Rotowijayan Blok No. 1, Panembahan, Kecamatan Kraton. Lokasinya sangat strategis, hanya sekitar 10 menit jalan kaki dari Malioboro. Kamu bisa menggunakan berbagai transportasi umum, taksi online, atau berjalan kaki dari pusat kota.
Kenakan pakaian yang sopan dan rapi sebagai bentuk penghormatan. Hindari celana pendek atau pakaian terlalu terbuka. Untuk pengalaman yang lebih mendalam, kamu bisa menggunakan jasa pemandu wisata resmi yang memiliki pengetahuan luas tentang sejarah dan budaya keraton.
Datang saat pagi hari agar tidak terlalu ramai dan cuaca masih sejuk. Jangan lupa membawa kamera untuk mengabadikan arsitektur megah dan berbagai sudut instagramable di dalam kompleks keraton.
Keberadaan Malioboro tak bisa dipisahkan dari Keraton Yogyakarta. Di jalan Malioboro terdapat Kepatihan sebagai pusat pemerintahan sehari-hari dan Pasar Gedhe sebagai pusat perekonomian warga. Konsep tata ruang ini disebut catur gatra tunggal yang mencakup empat elemen penting: politik, keagamaan, ekonomi, dan sosial.
Alun-alun Utara dan Selatan yang mengapit keraton juga menjadi bagian integral dari tata ruang kota tua Yogyakarta. Di Alun-alun Kidul terdapat dua pohon beringin kembar yang konon punya cerita mistis tersendiri.

UNESCO telah meresmikan bangunan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai warisan budaya benda dan non-benda. Status ini menegaskan pentingnya pelestarian nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Yang membuat Keraton Yogyakarta berbeda dari istana lainnya adalah statusnya sebagai living monument. Hingga kini, Sultan Hamengku Buwono X dan keluarganya masih tinggal di kompleks keraton dan menjalankan berbagai upacara adat serta tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Setiap acara besar seperti Garebeg dan Sekaten masih diselenggarakan dengan khidmat melibatkan ribuan abdi dalem. Ritual-ritual ini bukan sekadar pertunjukan wisata, melainkan bagian dari kehidupan spiritual dan budaya yang masih dijaga kelestariannya.
Setelah memahami ada apa saja di Keraton Yogyakarta, tentu kamu semakin tertarik untuk mengunjungi destinasi istimewa ini. Dari arsitektur megah yang sarat filosofi, koleksi bersejarah yang memukau, hingga pertunjukan seni yang autentik, semuanya menawarkan pengalaman wisata budaya yang tak terlupakan.
Keraton Yogyakarta bukan hanya tentang bangunan tua dan cerita masa lalu. Ini adalah tentang nilai-nilai luhur yang masih hidup, tradisi yang terus dijaga, dan identitas budaya yang menjadi kebanggaan bangsa. Setiap sudut keraton menyimpan pembelajaran berharga tentang keseimbangan hidup, penghormatan terhadap leluhur, dan kearifan lokal yang relevan hingga kini.
Untuk menjelajahi Keraton Yogyakarta dan destinasi menarik lainnya di Jogja dengan lebih nyaman, pertimbangkan untuk sewa mobil di Harent. Dengan armada lengkap dan harga terjangkau, perjalanan wisata budayamu akan semakin berkesan tanpa repot memikirkan transportasi. Harent siap menemani setiap petualangan wisatamu di Kota Gudeg dengan pelayanan profesional dan fleksibel sesuai kebutuhanmu.
Saat ini belum ada komentar