
Setiap tahun, bulan Ramadan selalu dinanti dengan penuh suka cita. Namun di balik euforia menyambut bulan suci, ada realitas yang kerap terlupakan: jam-jam rawan di jalan yang perlu diwaspadai. Data dari Korlantas Polri menunjukkan bahwa jam rawan kecelakaan selama Ramadan mengalami pola yang berbeda dibanding hari biasa, dan memahami ini bisa jadi penyelamat hidup Anda dan keluarga.
Mari kita bahas secara jujur dan terbuka tentang jam-jam krusial ini, lengkap dengan alasan mengapa periode tersebut begitu berbahaya, serta bagaimana cara kita mengantisipasinya dengan bijak.
Sebelum membahas jam-jam spesifiknya, penting untuk memahami konteks yang lebih besar. Berdasarkan data terbaru 2024 dari Integrated Road Safety Management System (IRSMS) Korlantas Polri, Indonesia mencatat 79.220 kecelakaan lalu lintas hingga Agustus 2024, dengan sepeda motor mendominasi 76,42 persen dari total kendaraan yang terlibat.
Selama Ramadan, pola berkendara masyarakat berubah drastis. Jam tidur berkurang karena bangun sahur, rutinitas harian bergeser, dan faktor fisik seperti dehidrasi serta rasa lapar turut mempengaruhi konsentrasi pengemudi. Kombinasi faktor-faktor inilah yang membuat jam-jam tertentu menjadi sangat kritis.
Ini adalah periode paling rawan kecelakaan selama Ramadan, dan datanya tidak berbohong. Jam rawan kecelakaan menjelang berbuka puasa ini mencatat lonjakan signifikan dibanding waktu lainnya.
Menurut laporan Pusiknas Polri, rentang waktu 15.00-18.00 WIB menyumbang 13,98 persen dari total kecelakaan lalu lintas secara nasional. Selama Ramadan, angka ini bahkan bisa lebih tinggi. Kapolsek Jatiuwung, Kompol Rabiin, dalam pernyataannya awal Maret 2025 mengonfirmasi bahwa pengaturan lalu lintas harus diintensifkan pada jam 16.30 WIB menjelang berbuka puasa karena tingginya potensi kecelakaan.
Kasat Lantas Polres Wajo, AKP Riyanda Putra, dalam imbauan jelang Ramadan 2026 menekankan agar masyarakat tidak terburu-buru. Namun kenyataannya, nasihat ini sering diabaikan ketika waktu berbuka tinggal 30 menit lagi dan rumah masih jauh.
Mengejutkan bagi banyak orang, tetapi data menunjukkan bahwa pagi hari juga merupakan jam rawan kecelakaan, bahkan di luar bulan Ramadan sekalipun. Menurut data Polda Metro Jaya tahun 2014, rentang waktu 06.00-09.00 WIB menyumbang 14,78 persen dari total kecelakaan, setara dengan 2,42 kecelakaan per hari.
Selama Ramadan, risiko ini meningkat karena beberapa alasan spesifik. Banyak orang yang kurang tidur setelah bangun sahur di pukul 03.00-04.00 dini hari. Tidur yang terpotong membuat refleks berkendara menurun drastis. Ditambah lagi, perut yang kenyang setelah sahur membuat tubuh mengantuk.
Instruktur Yamaha Riding Academy, Muhamad Arief, dalam keterangan resminya menegaskan bahwa menjaga konsentrasi saat berkendara sangat penting, apalagi saat kondisi tubuh tidak fit karena berpuasa. Kurang tidur saat sahur dapat menurunkan fokus dan refleks yang merupakan faktor utama keselamatan di jalan raya.
Jalanan pada pagi hari juga padat dengan pekerja dan pelajar yang bergegas. Kombinasi antara pengemudi yang mengantuk dan lalu lintas yang padat menciptakan situasi yang sangat berisiko.

Ini mungkin periode yang paling diabaikan, padahal jam rawan kecelakaan saat sahur ini menyimpan bahaya tersembunyi yang tidak kalah serius.
Beberapa faktor membuat dini hari selama Ramadan menjadi periode berisiko tinggi.
Untuk memberikan perspektif yang lebih komprehensif, mari kita lihat data terkini dari berbagai sumber kredibel. Menurut Kakorlantas Polri Irjen Pol Aan Suhanan, angka kecelakaan mudik Lebaran 2025 mencatat penurunan 12 persen dari 1.723 kasus pada periode sebelumnya menjadi 1.581 kasus. Penurunan ini terjadi karena meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya istirahat dan pemeriksaan kesehatan.
Namun jangan lengah. Meski ada penurunan, angka kecelakaan nasional tahun 2024 tetap mengkhawatirkan. Data dari Kota Semarang menunjukkan 582 kasus kecelakaan pada 2024 dengan 625 korban. Dari jumlah tersebut, 585 orang mengalami luka ringan, 12 orang luka berat, dan 28 orang meninggal dunia.
Yang memprihatinkan, sebagian besar korban meninggal adalah laki-laki usia produktif yang menjadi tulang punggung keluarga. Ketika seorang ayah meninggal dalam kecelakaan, bukan hanya satu nyawa yang hilang tetapi masa depan satu keluarga yang hancur.
Faktor penyebab kecelakaan paling dominan adalah kelalaian manusia. Data menunjukkan bahwa kecelakaan lebih sering terjadi di jalan dengan permukaan baik, bukan di jalan yang rusak. Ini membuktikan bahwa kondisi jalan yang mulus justru membuat pengemudi terlena dan mengebut tanpa perhitungan risiko.

Memahami jam rawan kecelakaan saja tidak cukup. Anda perlu tahu bagaimana cara mengantisipasinya. Berikut adalah panduan praktis berdasarkan rekomendasi ahli dan best practice dari berbagai sumber:
Lakukan pengecekan kendaraan secara menyeluruh. Pastikan rem, ban, lampu, klakson, dan wiper dalam kondisi prima. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menekankan pentingnya beristirahat minimal 30 menit setiap 4-5 jam berkendara dan memeriksa kesehatan secara berkala.
Jika memungkinkan, hindari berkendara pada jam-jam rawan yang sudah disebutkan. Berangkat lebih awal atau lebih lambat dari rush hour bisa menyelamatkan hidup Anda. Untuk perjalanan menjelang berbuka, pertimbangkan untuk berbuka di perjalanan daripada memaksakan diri tiba rumah tepat waktu.
Sahur dengan makanan bergizi tinggi serat seperti buah dan sayur agar energi bertahan lebih lama. Hindari makanan tinggi minyak dan lemak yang memicu kantuk. Tidur yang cukup sangat krusial. Jika merasa mengantuk saat berkendara, segera menepi ke tempat aman dan istirahat sejenak.
Waspadai area-area yang ramai seperti pusat jajanan takjil, pasar, dan persimpangan padat. Jangan tergoda untuk parkir sembarangan atau melanggar aturan lalu lintas hanya karena ingin cepat. Ingat, tiba dengan selamat lebih penting daripada tiba dengan cepat.
Gunakan perlengkapan safety lengkap. Untuk pengendara motor: helm dengan visor, jaket, sarung tangan, dan sepatu yang nyaman. Untuk pengendara mobil: pastikan semua penumpang menggunakan sabuk pengaman.
Dari semua kasus ini, benang merahnya sama: kelalaian manusia yang diperparah oleh kondisi fisik yang tidak prima. Selama Ramadan, kondisi ini menjadi lebih parah karena faktor puasa dan kurang tidur.
Setelah memahami betapa berbahayanya jam-jam rawan di jalan selama Ramadan, mungkin Anda mulai berpikir: apakah ada cara yang lebih aman untuk tetap mobile tanpa harus menghadapi risiko ini sendirian?
Di sinilah Harent hadir sebagai solusi. Dengan menyewa mobil di Harent, Anda mendapatkan beberapa keuntungan signifikan yang bisa mengurangi risiko kecelakaan:
Semua unit mobil Harent telah melalui pengecekan menyeluruh dan pemeliharaan berkala. Anda tidak perlu khawatir tentang kondisi rem, ban, atau komponen krusial lainnya yang bisa jadi pemicu kecelakaan. Kendaraan yang terawat dengan baik adalah fondasi pertama keselamatan di jalan.
Dengan menyewa mobil, Anda bisa memilih waktu yang tepat untuk perjalanan tanpa terikat dengan jadwal kendaraan umum. Ingin menghindari jam rawan pukul 16.00-18.00? Anda bisa atur jadwal sesuai kenyamanan dan keamanan Anda.
Jika Anda berencana mudik, mobil sewaan dari Harent dalam kondisi optimal untuk perjalanan jarak jauh. Tidak seperti mobil pribadi yang mungkin sudah dipakai sehari-hari dan perlu service mendadak, mobil sewaan Harent siap untuk trip apapun.
Harent menyediakan berbagai jenis kendaraan, dari yang kompak untuk perjalanan dalam kota hingga yang lega dan nyaman untuk keluarga besar. Kenyamanan berkendara sangat berpengaruh pada tingkat kewaspadaan dan konsentrasi di jalan.
Perjalanan selama Ramadan seringkali melibatkan waktu-waktu tidak biasa: dini hari untuk sahur on the road, atau tengah malam setelah tarawih. Harent memahami kebutuhan ini dan siap memberikan dukungan kapan pun Anda memerlukan.
Dalam konteks keselamatan berkendara selama Ramadan, memilih untuk menyewa mobil di Harent bukan tentang kemewahan, tetapi tentang kepedulian pada keselamatan diri dan keluarga. Dengan kondisi kendaraan yang prima dan berbagai kemudahan yang ditawarkan, Anda bisa fokus pada yang terpenting: tiba dengan selamat di tujuan.
Ya, berdasarkan berbagai studi dan pengalaman praktisi keselamatan berkendara, puasa memang mempengaruhi refleks dan konsentrasi pengemudi, terutama pada jam-jam menjelang berbuka ketika kadar gula darah menurun dan dehidrasi mulai terasa. Namun efek ini bisa diminimalkan dengan persiapan yang baik seperti sahur bergizi dan istirahat cukup.
Untuk perjalanan pagi, usahakan berangkat sebelum pukul 06.00 atau sesudah pukul 09.30 WIB. Untuk sore hari, pilih berangkat sebelum pukul 15.00 atau tunda hingga setelah berbuka puasa, sekitar pukul 19.00 WIB ke atas. Jika harus berkendara pada jam rawan, tingkatkan kewaspadaan berlipat ganda.
Jika memungkinkan, tidur kembali setelah sahur minimal 1-2 jam. Jika harus langsung berkendara, buka jendela untuk sirkulasi udara segar, dengarkan musik dengan tempo cepat (bukan yang menenangkan), dan jangan ragu untuk menepi dan istirahat sejenak jika kantuk menyerang. Keselamatan lebih penting daripada ketepatan waktu.
Pola umum jam rawan cenderung sama, yaitu pagi hari (06.00-09.00), sore menjelang berbuka (16.00-18.00), dan dini hari saat sahur (03.00-05.00). Namun di kota besar, intensitas dan kepadatan lalu lintas jauh lebih tinggi sehingga risikonya meningkat. Di daerah, masalah lebih pada minimnya penerangan jalan dan kondisi infrastruktur yang kurang memadai.
Prioritas utama adalah keselamatan Anda dan penumpang. Jika memungkinkan, bantu korban dengan cara yang aman tanpa membahayakan diri sendiri. Hubungi nomor darurat 110 atau 112. Jangan memperparah kemacetan dengan berhenti di tengah jalan hanya untuk melihat. Berdoa untuk keselamatan korban sambil tetap fokus pada perjalanan Anda sendiri.
Ramadan adalah bulan yang penuh berkah, momentum untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan mempererat tali silaturahmi dengan keluarga serta kerabat. Namun kebahagiaan ibadah dan kumpul keluarga bisa hancur dalam sekejap jika kita lalai di jalan raya.
Jam rawan kecelakaan selama Ramadan bukan sekadar statistik atau angka-angka di kertas. Di balik setiap data kecelakaan, ada keluarga yang berduka, anak-anak yang kehilangan orang tua, dan mimpi-mimpi yang sirna. Ketika kita memahami dan menghormati jam-jam rawan ini, kita tidak hanya melindungi diri sendiri tetapi juga orang-orang terkasih yang menanti kedatangan kita dengan selamat.
Berkendara selama Ramadan memerlukan persiapan ekstra, kesadaran yang tinggi, dan keputusan-keputusan bijak. Mulai dari memilih waktu berkendara yang tepat, memastikan kondisi fisik prima, hingga menggunakan kendaraan yang layak jalan. Semua aspek ini saling berkaitan dalam menciptakan perjalanan yang aman.

Ingatlah selalu bahwa tujuan utama berkendara bukan hanya sampai di tujuan, tetapi sampai dengan selamat. Tidak ada yang lebih berharga daripada bisa berkumpul dengan keluarga di meja berbuka puasa, mendengar tawa anak-anak, dan melanjutkan ibadah bersama hingga hari kemenangan tiba.
Jika Anda memerlukan kendaraan yang handal dan terawat untuk menemani perjalanan selama Ramadan, jangan ragu untuk mempertimbangkan layanan sewa mobil di Harent. Dengan armada yang terawat, pilihan yang beragam, dan dukungan layanan yang siap membantu kapan saja, Harent berkomitmen untuk menjadi bagian dari perjalanan ibadah Anda yang aman dan nyaman.
Mari kita jadikan Ramadan tahun ini sebagai bulan yang penuh kebaikan, bukan hanya dalam ibadah tetapi juga dalam sikap bertanggung jawab di jalan raya. Selamat menjalankan ibadah puasa, dan selamat berkendara dengan bijak. Semoga kita semua dilindungi dari segala marabahaya dan bisa merayakan kemenangan di hari yang fitri nanti bersama orang-orang tercinta.
Saat ini belum ada komentar