
Beberapa tahun lalu, mobil listrik masih cukup jarang terlihat di jalan. Pilihannya terbatas, harganya relatif tinggi, dan charging station belum sebanyak sekarang.
Memasuki 2026, situasinya berubah cukup cepat.

Data GAIKINDO menunjukkan pangsa mobil listrik berbasis baterai atau Battery Electric Vehicle (BEV) sudah mencapai 15,6% pada Maret 2026. Artinya, porsinya sudah mendekati 16% dari pasar mobil baru nasional.
Sederhananya:
Hampir 1 dari setiap 6 mobil baru yang didistribusikan di Indonesia sudah berupa mobil listrik murni.
Dan angka tersebut menunjukkan bahwa mobil listrik mulai bergerak dari pasar khusus menuju bagian penting industri otomotif Indonesia.
Pertumbuhannya makin terlihat kalau kita mundur beberapa tahun.
| Periode | Pangsa Pasar BEV |
|---|---|
| 2021 | 0,1% |
| Akhir 2025 | 12,9% |
| Maret 2026 | 15,6% |
Dalam periode awal 2026 yang dibandingkan GAIKINDO, volume BEV bahkan meningkat 96% menjadi 33.146 unit, sementara pertumbuhan industri otomotif secara keseluruhan hanya sekitar 1,7%.
Jadi peningkatan mobil listrik bukan sekadar karena pasar mobil secara keseluruhan sedang naik.
EV memang sedang mengambil porsi pasar yang semakin besar.
Jawabannya bukan cuma karena masyarakat mulai peduli lingkungan.
Ada perubahan besar dari sisi produknya.
Pilihan mobil listrik sekarang jauh lebih beragam. Konsumen sudah bisa menemukan city car, SUV, hingga MPV listrik untuk kebutuhan keluarga.
Persaingan harga juga semakin ketat. GAIKINDO mencatat pasar EV nasional pada awal 2026 sudah sekitar 15%, naik berkali-kali lipat dibanding beberapa tahun sebelumnya. Salah satu faktor yang disebut mendorong pertumbuhan adalah semakin kompetitifnya harga, bertambahnya infrastruktur pengisian daya, serta dukungan kebijakan pemerintah.

Perubahan lain yang menarik adalah tipe kendaraan listrik yang diminati masyarakat.
Pada Maret 2026 misalnya, daftar BEV dengan distribusi wholesales tertinggi tidak hanya diisi mobil kecil. Ada Jaecoo J5, BYD M6, BYD Sealion 07, Geely EX2 hingga Denza D9.
Ini menunjukkan pasar mulai mempunyai pilihan untuk berbagai kebutuhan.
Pertumbuhan tinggi bukan berarti transisi ke mobil listrik sudah selesai.
Salah satu hal penting tetap infrastruktur pengisian baterai, terutama ketika kendaraan digunakan untuk perjalanan jauh atau di daerah dengan fasilitas charging yang belum merata.
Selain itu, industri juga sedang memasuki fase berikutnya: bukan cuma menjual EV di Indonesia, tetapi meningkatkan produksi dan komponen lokal.
Dalam peta jalan yang dibahas GAIKINDO, target TKDN kendaraan listrik minimal 40% pada 2026, kemudian meningkat menjadi 60% pada 2027–2028.
Artinya, persaingan mobil listrik Indonesia ke depan bukan cuma soal:
“Siapa yang paling banyak menjual mobil?”
Tetapi juga:
“Siapa yang benar-benar membangun ekosistem kendaraan listrik di Indonesia?”

Belum tentu secepat itu.
Data GAIKINDO memang menunjukkan porsi kendaraan bermesin konvensional turun dari 99,6% pada 2021 menjadi 78,2% pada 2025, lalu sekitar 75% pada Maret 2026. Di saat yang sama, porsi BEV terus meningkat.
Tetapi kebutuhan kendaraan setiap orang dan perusahaan berbeda.
Ada yang lebih cocok menggunakan BEV untuk mobilitas perkotaan. Ada yang memilih hybrid. Ada juga kebutuhan operasional tertentu yang masih lebih praktis menggunakan kendaraan konvensional.
Jadi yang sedang terjadi bukan sekadar “mobil listrik menggantikan mobil bensin.”
Lebih tepatnya, pilihan kendaraan di Indonesia sedang berubah semakin beragam.
Pertumbuhan mobil listrik juga membuka pilihan baru bagi perusahaan dalam menentukan kendaraan operasional.
Terutama untuk kendaraan yang aktivitas hariannya relatif terprediksi, misalnya:
Kantor → Meeting → Kunjungan Klien → Kantor
atau
Kantor → Operasional Dalam Kota → Kembali ke Pool
Dalam pola perjalanan seperti ini, kendaraan listrik berpotensi menarik karena rute dan jarak tempuh hariannya lebih mudah diperhitungkan.
Namun, bukan berarti setiap kendaraan operasional perusahaan harus langsung diganti menjadi EV.
Harga kendaraan bukan satu-satunya pertimbangan.
Untuk penggunaan operasional, perusahaan juga perlu melihat total kebutuhan kendaraan selama digunakan, mulai dari jarak tempuh harian, lokasi operasional, ketersediaan charging, biaya perawatan hingga durasi penggunaan armada.
Misalnya, kendaraan yang mayoritas digunakan di Jabodetabek tentu memiliki kebutuhan berbeda dengan kendaraan yang rutin melakukan perjalanan antarkota.
Karena itu, keputusan armada sebaiknya dimulai dari satu pertanyaan sederhana:
Kendaraan ini sebenarnya akan digunakan untuk apa?
Baru setelah itu perusahaan dapat menentukan teknologi dan jenis kendaraan yang paling sesuai.
Tidak ada satu jenis kendaraan yang otomatis cocok untuk seluruh kebutuhan perusahaan.
| Kebutuhan Operasional | Hal yang Perlu Dipertimbangkan |
|---|---|
| Mobilitas dalam kota | Jarak harian dan efisiensi |
| Perjalanan antarkota | Jangkauan dan akses pengisian/BBM |
| Kendaraan manajemen | Kenyamanan dan kebutuhan penggunaan |
| Operasional lapangan | Ketahanan dan fleksibilitas rute |
| Armada perusahaan | Biaya dan pengelolaan jangka panjang |
Hartono Rent Car menyediakan solusi rental kendaraan jangka panjang untuk perusahaan, dengan pilihan kendaraan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan operasional.
Mulai dari kendaraan untuk aktivitas karyawan dan manajemen hingga kebutuhan armada operasional perusahaan.
Jadi sebelum menentukan kendaraan yang akan digunakan—baik mengikuti perkembangan teknologi terbaru maupun tetap menggunakan kendaraan yang sudah terbukti sesuai kebutuhan—perusahaan dapat memulainya dengan mengidentifikasi pola operasional dan kebutuhan armada terlebih dahulu.
→ Konsultasikan Kebutuhan Kendaraan Perusahaan
Jika mengacu pada pasar mobil baru, pangsa mobil listrik murni atau BEV sudah berada di kisaran 16% pada 2026 berdasarkan data wholesales GAIKINDO. Angka ini menggambarkan distribusi kendaraan baru, bukan berarti 16% dari seluruh mobil yang sudah beredar di Indonesia adalah mobil listrik.
Harga mobil listrik di Indonesia semakin beragam dan beberapa model sudah masuk ke segmen yang lebih terjangkau. Karena harga dapat berubah akibat promo, varian, serta kebijakan produsen, sebaiknya cek harga terbaru dari masing-masing merek sebelum membeli.
Waktu pengisian baterai tergantung kapasitas baterai, kemampuan mobil, serta jenis charger yang digunakan. DC fast charging umumnya jauh lebih cepat dibanding AC charging di rumah, tetapi setiap model memiliki kemampuan pengisian yang berbeda.
Jarak tempuh berbeda untuk setiap model. Kapasitas baterai, kecepatan, kondisi jalan, penggunaan AC, jumlah penumpang, dan gaya berkendara dapat memengaruhi jarak yang bisa ditempuh dalam sekali pengisian.
Mobil listrik memiliki komponen penggerak yang berbeda dan tidak membutuhkan beberapa perawatan rutin mesin pembakaran seperti penggantian oli mesin. Namun pemilik tetap perlu memperhitungkan ban, sistem pengereman, baterai, pendingin pada model tertentu, serta komponen lainnya.
Umur baterai mobil listrik tidak memiliki satu angka yang berlaku untuk semua kendaraan. Ketahanannya dipengaruhi teknologi baterai, pola charging, suhu, penggunaan kendaraan dan sistem manajemen baterai. Karena itu, garansi baterai dari produsen juga penting diperhatikan saat memilih EV.
Hal yang perlu diperhitungkan adalah jarak tempuh dan ketersediaan charging station di sepanjang rute. Perjalanan jauh dengan EV tetap memungkinkan, tetapi membutuhkan perencanaan lokasi dan waktu pengisian baterai yang lebih matang dibanding perjalanan menggunakan kendaraan berbahan bakar konvensional.
Bisa, terutama jika kendaraan memiliki rute dan jarak tempuh harian yang relatif terprediksi. Perusahaan tetap perlu menghitung kebutuhan charging, jarak operasional, utilisasi kendaraan, biaya, dan karakteristik pekerjaan sebelum menentukan jenis armada.
Saat ini belum ada komentar